di kampus pun, saya ndleming
Hong Kong People vs Javanese People
and Javanese in Hong Kong
To start this writing, I would like to emphasize that what I am going to tell about cultural differences is what I got from my experiences. Born in Blitar from both Javanese parent, I used to live in Sumatra when I was kid. I started to work as migrant worker in Singapore for two years when I finished my High School. Back from Singapore, I then worked in Hong Kong for almost five years before decided to be home and study in university. To make a long story short, I used to meet many people from many different cultures. From my experience too, perhaps, I do not see people from other culture background with so much amazement or see them like they were born with two heads. Of course, there is always something interesting when we talk about cultural differences. I do not understand (yet) how to tell this story in nice order, but to limit my writing in order to stay focus I would try to only talk about the openness between Hong Kong people and Indonesia (especially Javanese). (Baca Terusannya)
Mengumpulkan Kenangan-kenangan
Pagi, 23 Juni 2009, tiga koper telah saya letakkan di lantai dasar. Nena dan Lala (dua anak bos saya) masih belum bangun dari tidurnya. Berkali-kali saya yakinkan diri saya, tidak ada satu benda pun yang akan saya tinggalkan di kamar saya.
Lala, gadis tujuh tahun anak bos saya kedengaran menuruni tangga mendekati kamar saya, ia berdiri di pintu kamar dan saya yakin ia sibuk memperhatikan saya yang lantas segera membalikkan badan membelakanginya, pura-pura sibuk membuka-menutup almari pakaian. Demi Tuhan, saya bingung berhadapan dengannya. Saya tidak mengerti kata-kata apa yang mustinya saya katakan padanya. Apakah guyonan seperti biasanya, apakah sindiran mengapa ia bangun sangat pagi sekali, apakah kata-kata perintah menyuruhnya segera berganti pakaian, apakah menanyakan apa yang ingin ia makan untuk sarapan pagi itu, apakah melontarkan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan kebutuhan sekolahnya besok (sepagi itu?), apakah mengingatkannya pagi itu saya akan pulang kampung dan tidak akan kembali lagi.
(Baca Terusannya)
Indonesia itu sebelah mananya Bali?
Sering kali, pada kesempatan-kesempatan yang menyenangkan di Hong Kong, ada saya menyaksikan kawan-kawan saya yang tergabung di organisasi seni dan budaya buruh migran Indonesia (BMI) menampilkan tari-tarian tradisional. Bahwa saya tinggal lumayan lama di Hong Kong, kesempatan-kesempatan seperti ini bukan sama sekali sesuatu yang langka. Sering, bahkan bisa dikatakan sangat sering.
(Baca Terusannya)
this one start to torn apart; it’s my heart
So, here is the sad sad sad saddest tale that bothering me lately, dear reader…
Waktuku makin dekat untuk segera pergi, menjauh dari segala yang menyenangkan di negara yang bagimanapun buruknya telah memberikan saya banyak hal menyenangkan. Saya terutama sekali akan kehilanga kawan-kawan yang luar biasa memberi hidup. Ruang yang membebaskan untuk mengamati apa-apa yang terjadi di sekitar saya; yang baik dan atau yang buruk. Saya akan segera kembali ke dunia di mana banyak hal hanya mampu saya lihat dengan meraba-raba, sesuatu yang seringkali membuat saya merasa tidak punya daya apa-apa.
(Baca Terusannya)
susahnya bilang selamat tinggal… susah banget
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya ternyata sulit untuk menemukan hari tepat untuk mengatakan selamat tinggal pada anak bos selama kurun waktu tiga tahun setengah ini saya asuh. Kemarin bos meminta saya untuk mencari hari yang tepat agar ia tidak shock atau sedih untuk jujur padanya saya akan segera pulang ke orangtua saya di kampung dan tidak akan kembali lagi. Beliau bilang lebih baik saya yang mengatakan bahwa saya yang akan pergi dan bukan karena orangtuanya yang menyuruh saya untuk hengkang. Karena sulitnya to find the right way to say say good bye on a good day, saya sempat berpikir bos sedang menghukum saya karena mengundurkan diri beberapa hari sebelumnya.
(Baca Terusannya)
The Handmaid’s Tale dan Tanah Air Tumpah Darah
Ada sebuah negeri bernama Republik Gilead, berada di perbatasan sebuah negara yang dulu bernama Amerika Serikat. Gilead ada setelah serangan nuklir, polusi kimia dan biologi yang bertubi-tubi yang menyebabkan banyak perempuan-perempuan jadi mandul, juga serangan teroris yang membunuh presiden dan badan pemerintahan. Revolusi ini menyebabkan pemerintah USA dan perundang-undangan Amerika hilang. Negara-negara baru, termasuk Gilead muncul di bawah pemerintahan militer yang diktator. Di Gilead, perempuan menjadi kekayaan publik, menjadi milik negara.
(Baca Terusannya)
Lesbian BMI Hong Kong Menurut Saya
Minggu lalu, nasib mujur saya bisa menonton 2 episode antologi film dokumenter ‘Pertaruhan’ sekalian bertemu dengan salah satu sutradaranya, Ani Ema Susanti. Film hasil produksi Kalyana Shira Foundation yang sebetulnya terdiri dari beberapa episode itu mencoba memotret otonomi yang dimiliki oleh perempuan-perempuan Indonesia. Ia bicara soal Lesbianisme, Virginitas, sunat pada perempuan, dan prostitusi. Waktu terlalu sempit untuk bisa menonton semua, tapi satu cerita yang sempat saya lihat itu kemudian menggiring saya untuk coba melihat fenomena lesbian di kalangan kawan-kawan BMI Hong Kong. Petikan cerita itu mengisahkan ‘Ryan’, BMI Hong Kong yang menjalin hubungan dengan kekasih perempuannya di Hong Kong, penulis dan sutradaranya, Ani adalah mantan BMI Hong Kong.
Leaving Hong Kong, Missing Hong Kong
…to realize that I’m leaving Hong Kong soon is sad. It’s sad sad sad ending…
Sungguh. Tiap kali berpikir saya akan meninggalkan Hong Kong sudah membuat saya merasa akan didera rindu akan Hong Kong. Segala tentang Hong Kong. Dilematik, memang.
(Baca Terusannya)
She is My Boyfriend
Ini cerita tentang rasisme. Soal perbedaan manusia dilihat dari penampakan anatomi tubuh dan bahasa, mengarah pada sikap antipati antara satu dengan yang lain. Cerita tentang saya, kawan saya, dan orang dari negara lain. Bertemu pada satu kesempatan untuk melestarikan sikap rasis. Gamblangnya, rasisme yang muncul dari orang berkewarganegaraan Indonesia (saya dan kawan saya) dengan orang berkewarganegaraan (mungkin) Pakistan.
(Baca Terusannya)
Menyoal Kejut Budaya BMI Hong Kong
Kapan hari, kira-kira sebelum Tahun Baru China, seorang kawan menanya adakah saya pernah berusaha menjawab, semacam sanggahan atau apalah dalam bentuk tulisan yang menyangkut ‘shock culture’ yang dialami banyak buruh migran Indonesia di Hong Kong. Adakah saya pernah mencoba menjelaskan dengan perspektif yang lebih adil, tentang apa yang sekarang banyak diomongkan banyak orang; kedodorannya kawan-kawan migran menyerap budaya yang mereka dapatkan di luar negeri, khususnya BMI Hong Kong. Tentang fenomena lesbian dan link-link amoral yang berkembang di internet yang sering diberi label: TKW Hong Kong telanjang bla bla bla.
(Baca Terusannya)
19/01/2011